Tulisan di mailing list navs-sety (ring pendukung kel Setyabudi, jadul, September 2010)
Lebaran 2010 telah berlalu.
Mirip seperti lebaran-lebaran sebelumnya, setelah meninggalnya mertua saya (2005 dan 2006), maka masa-masa lebaran ini keluarga besar dari List ngumpulnya di Depok, dan sebagian besarnya menginap di rumah kami. Satu kakak dari Solo malah sudah datang menjelang bulan Ramadhan. Yang lain datang sekitar seminggu sebelum puasa berakhir. Hari ini masih ada dua saudara, satu besok pulang ke Solo, satu lagi biasanya akan lebih lama di Depok.
Meski bapak ibu saya sendiri Islam, tapi mereka tidak sholat (hanya puasa tiap Ramadhan, dan kami ikut puasa). Malah cara mereka dulu berdoa lebih mirip cara orang Kristen. Beda dengan sodara-sodara List, mereka Islam yang menjalankan sholat dengan baik. Dan baru pertama kali ketika puasa kemarin, mereka sholat berjemaah di rumah kami.
Dulu-dulu ketika pertama-tama jadi Kristen, saya agak risih kalaulihat orang sholat di rumah. Tapi sekarang saya kok bisa menikmatinya. Makin lama malah ada perasaan, bahwa itu hal baik utk mereka lakukan. Bukankah dengan sholat menunjukkan mereka masih dekat kepada hal-hal yang rohani, bahwa mereka masih mencari Allah? Bandingkan dengan sebagian orang-orang zaman sekarang yang sudah tidak menghormati hal-hal rohani, atau paling tidak simbol-simbol kerohanian.
Rumah saya sendiri tidak menunjukkan simbol-simbol kekristenan. Satu foto yang terpasang malah foto alm mertua yang memakai simbol/pakaian Islam. Dalam pikiran saya salah satunya adalah: saya harus lebih mementingkan kenyamanan orang yang lain agama daripada yang seagama. Jadi ketika Lebaran kemarin, saya sengaja download bbrp lagu islami,
dan menyambut mereka pulang dari sholat Ied, saya perdengarkan lagu-lagu tsb di ruang makan/tamu.
Dalam konteks lintas budaya/agama seperti keluarga kami, saya meyakini bahwa simbol kami yang harusnya kelihatan adalah perbuatan baik dan pengorbanan.
Mat 5:16 Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.
Now that I’ve put you there on a hilltop, on a light stand–shine! Keep open house; be generous with your lives. By opening up to others, you’ll prompt people to open up with God, this generous Father in heaven. (MSG)
Komentar:
Betul sekali Mas Setyo, kita memang tidak diminta “menjadi” garam dan terang tapi kita “adalah” garam dan terang. Jadi begitulah, ga keliatan tapi kerasa asinnya, ga ngapa2in tapi terangnya toh keliatan juga. Selamat menikmati kerukunan dan menjadi berkat di tengah keluarga besar. Contoh yang baik buat kami.
Salam,
Orias
Thx mas Setya u/ kisah unik/kesaksian lintas agama, yg tdk banyak dari kita berkesempatan u/ alami.
Salam,
Haposan P. PL81
dear broer Orias, bang Ocan, dkk… terima kasih untuk komentar dan konfirmasinya.
Bang Ocan,
justru dulu saya yang merasa tidak banyak mendapat kesempatan pengalaman lintas agama. Karena saya tidak bekerja/berkantor heterogen seperti Rekan-rekan. Jadi saya sempat ‘iri’. 🙂 Tiap hari Rekan-rekan kebanyakan hidup lintas agama secara intens, sementara kami tidaklah seperti itu. Tapi baiklah kita merasa puas dan terus melihat kesempatan yang Tuhan berikan secara unik kepada kita masing-masing.
Saya sendiri sedang terus belajar dan berjuang, bagaimana bisa bekerja dengan efektif untuk menjadi pembawa Kabar Baik lintas budaya. Saya yakin Tuhan terus bekerja, dan bekerja dengan unik melalui kita. Kita harus peka terus pada pimpinan Tuhan, dan terus belajar.
Seperti pernah saya sebut pada kesempatan lain, untuk melintas budaya, saya perlu melihat apa yang pokok/wajib yang harus diteruskan, apa yang hanyalah asesoris yang tidak perlu dipaksakan. Satu buku yang baik dalam konteks di Indonesia adalah Lepas Dari Belenggu (Jabbour). Intinya: yang harus diberitakan adalah Kristus, jika demikian, ada kemungkinan besar bahwa orang akan tertarik, karena Kristus adalah Kabar Baik (bukan kabar buruk). Tapi mungkin Kabar Baik itu berpuluh dan ratusan tahun telah terselubungi dengan image-image lain yang salah, yang membuat Kristus tidak menarik.
Beberapa orang dari agama lain (termasuk orangtua kami), bisa percaya Kristus di saat terakhir (saved by the bell, spt penjahat yang disalib di samping Yesus). Oh, betapa indahnya jika ada yang bisa percaya jauh sebelumnya, supaya mereka bisa meneruskan Kabar Baik itu.
Di milis lifejourney, mas Krista mengatakan, bahwa dalam hal penyebaran ini kita bisa menjadi pelaku, penonton atau penghambat. Wah, kata ‘penghambat’ ini kosakata baru bagi saya.
Mat 23:13 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk.
Saya ingin menjadi pelaku yang efektif, tapi bagaimana caranya? Saya dan List telah belajar, dan terus belajar. Saya perlu lebih giat belajar dan melakukan. Perlu hikmat dan keberanian. Paradigma juga ada yang perlu diubah spy lebih efektif. Mohon dukungan doa, spy kami bisa melakukan dengan baik buat sodara-sodara kami tsb.
Untuk kita yang aktif hanya di lingkungan Kristen, hal-hal di atas mungkin tidak perlu. Tapi ada baiknya juga kita bersikap seperti Rasul Yakobus, meski dia/beliau melayani di antara orang berlatarbelakang Yahudi, tapi beliau bisa memahami pekerjaan-pekerjaan di antara orang bukan Yahudi. Demikian beliau berkata:
Kis 15:19 Sebab itu aku berpendapat, bahwa kita tidak boleh menimbulkan kesulitan bagi mereka dari bangsa-bangsa lain yang berbalik kepada Allah,
Biarlah Kristus yang masuk kepada bangsa lain, dan bukan budaya Yahudi (sunat dll). Setelah suatu bangsa menerima Kristus, bagaimana pola pemuridan mereka, bagaimana mereka menikmati hubungan dengan Kristus? Biarlah mereka menemukan yang paling cocok, ndak perlu spt kita orang Yahudi. (Kira-kira demikian parafrase saya.)
Berikut komentar John Stott yang dia kutip dari buku The Christ of the Indian Road (Jones, 1925):
Stanley Jones, who was himself an American Methodist missionary to India, put it strikingly. At the end of his book, The Christ of the Indian Road, he writes, “There is a beautiful Indian marriage custom, that dimly illustrates our task in India and where it ends. At the wedding ceremony in India, the women friends of the bride accompany her with music to the home of the bridegroom. They usher her into the presence of the bridegroom, but that is as far as they can go. They then retire and leave her with him. “And that,” he says, “is our joyous task in India. To know Him, to introduce Him, and then to retire. Not necessarily geographically, but to trust India with Christ, and trust Christ with India. We can only go so far. He and India must go the rest of the way.”
Komentar tsb ada di artikel Stott berjudul “In Christ”. Artikel ini sangat memberkati saya.
Sekali lagi mohon doakan kami, supaya kami terus belajar dari Alkitab bagaimana membawa Injil dgn efektif dalam lintas budaya. Jika rekan-rekan juga sedang berjuang membawa Injil dalam konteks lintas budaya, silakan jika berkenan membagikan pengalaman untuk memperkaya kita.

Buku gratis Lepas Dari Belenggu dalam.bahasa aslinya:
https://www.nabeeljabbour.com/unshackled-and-growing
Artikel “In Christ”:
https://www.cslewisinstitute.org/resources/in-christ-the-meaning-and-implications-of-the-gospel-of-jesus-christ/