Sweet Fire adalah buku yang berisi kesaksian hamba-hamba Tuhan yang mengalami musibah tetapi musibah itu membawa kepada keindahan rencana Tuhan dalam hidupnya. Ditulis oleh Carie Sydnoer Coffman. Dan ditulis kira-kira Tahun 90-an. Hasil penjualan buku tersebut disumbangkan untuk pelayanan. Salah satunya kesaksian saya ada di dalamnya. (Sadi Nainggolan)

Persis hari ini Tanggal 20 Agustus 56 tahun yang lalu, musibah di tahun 1970 saya alami karena kecerobohan seorang teman. Terjadi ledakan bahan kimia yang meledak persis di depan muka saya dan menghempaskan saya ke lantai.

Tetapi kemudian saya sadar bahwa saya belum mati. Luka parah membutakan mata saya. Saya tidak berharap apa-apa lagi dari manusia waktu itu, saya meraba meja dan kursi lalu duduk dan berdoa untuk keluarga dan orang-orang yang saya ingat. Akhirnya ada tetangga yang datang menolong dan membawa ke RSHS. Luka-luka di muka saya dijahit dan malam itu juga saya dibawa ke RS Cicendo . Pagi harinya team dokter berkata mata kiri sudah hancur dan mata kanan tipis harapan. Oh Tuhan hanya Engkau pengharapanku

Terasa sakit yang luar biasa pada muka saya terutama kedua mata saya seperti ditusuk pisau, dan telinga mendenging keras sekali dan saya merasa dunia menjadi gelap gulita. Saya mendengar kepanikan kedua teman yang bersama saya waktu itu. Salah satu teman, tangan kanannya terluka karena memegang botol berisi bahan kimia. Kemudian mereka pergi bergegas meninggalkan saya terkapar berlumuran darah di lantai. Mereka mengira saya sudah mati dan saya juga merasa sesaat lagi akan mati. Teringat Tuhan Yesus ketika di kayu salib, lalu saya berseru “Tuhan terimalah roh-ku”

Sesudah itu saya hidup dalam kegelapan dengan satu mata.

Hari-hari saya lalui didalam kegelapan. Keluarga, pembimbing rohani dan beberapa hamba Tuhan sangat menolong. Bapak Badu Situmorang selalu mengajar FT, menguatkan saya dan menjadikan saya murid yang sejati. Pak Jim Truax membawakan saya tape recorder dan Pak Urbanus (almarhum) merekamkan FT supaya saya dapat mempelajarinya.

Saya percaya pada saat itu Tuhan pasti akan menyembuhkan saya tetapi saya juga terdorong untuk belajar tulisan Braille. Lalu saya mendapatkan kitab Injil Markus. Ayat ini Markus 8:36-37 —Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya. Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?— sangat membesarkan hati saya. Apa gunanya memperoleh seluruh dunia ini tanpa mempunyai Kristus.

Hampir dua setengah tahun saya tidak dapat melihat, setelah menjalani empat kali operasi tahun 1973 saya dapat melihat cukup baik maka saya melanjutkan sekolah menengah atas (SMA) dan di tahun 1975 saya masuk ke PT ITB dan melayani di sana bersama dengan teman-teman Navigator.

Setelah menikah dengan Sondang dan dikaruniai tiga orang anak, mulai tahun 1995 perlahan-lahan penglihatan saya mengalami penurunan dan sekarang ini penglihatan saya sangat minim. Tetapi Tuhan sangat baik, IA tetap mau memakai kami untuk melayani Tuhan.

Peristiwa berat yang dialami ini adalah Sweet Fire, yang telah membawa saya kepada pengenalan akan Tuhan, apapun yang saya alami rencana-Nya baik.
Puji Tuhan. 🙏🙏🙏

Tinggalkan Balasan