Bagaimana rasanya Anda memiliki kualitas tidur yang baik/nyenyak pada malam hari? Bagaimana rasanya pikiran Anda terasa begitu ringan, padahal Anda sedang mengalami masalah yang begitu menekan Anda? Ada 3 kejadian Daud yang dapat kita contoh, ketika mengalami peristiwa yang sangat tidak mengenakkan, namun Daud tetap kuat dan gentar. ( Selengkapnya bisa baca 2 Samuel 15)

GAMBAR : Daud dalam pelarian : Pertempuran dengan Absalom
1. Pemberontakan Absalom
- Raja Daud melarikan diri dari ibukota kerajaan Israel , karena Absalom anaknya memimpin pemberontakan.
- Empat tahun sebelumnya, Absalom secara rahasia mempersiapkan pemberontakan tersebut secara terencana, sistematis dan masif
- Salah satu tugas raja Israel itu adalah menerima kedatangan dan pengaduan rakyat dari berbagai kota yang mempunyai masalah atau perkara yang memerlukan keputusan dan penyelesaian dari raja di Yerusalem. Absalom dan orang orangnya mencegat di pintu gerbang kota Yerusalem setiap orang Israel dari kota lain yang mau bertemu raja. Absalom mengatakan kepada mereka bahwa raja Daud dan pemerintahannya tidak mau mendengar masalah atau perkara mereka. Dia kemudian mengambil alih penyelesaian masalah mereka.
- Absalom melakukan upaya pencitraan didepan rakyat bahwa dia adalah pemimpin yang penuh perhatian kepada rakyatnya. “Apabila seseorang datang mendekati untuk sujud menyembah kepadanya, maka diulurkannya tangannya, dipegangnya orang itu diciumnya. Cara yang demikian diperbuat Absalom kepada semua orang Israel yang mau masuk menghadap untuk diadili perkaranya oleh raja, dan dengan demikian Absalom mencuri hati orang Israel” (2 Sam 15:6)
- Absalom menggalang secara rahasia persekongkolan dengan orang Israel yang mendukungnya dan juga dengan orang-orang kepercayaan Daud, termasuk Ahitofel, seorang penasehat strategi perang Daud. Mereka bekerjasama secara diam-diam menyusun kekuatan untuk mengambil alih pemerintahan.
- Setelah yakin mendapat dukungan dari sebagian besar orang Israel, Absalom memproklamirkan diri sebagai raja di Hebron. Absalon dan pasukannya siap masuk ke Yerusalem mengambil alih pemerintahan dengan kekuatan militer yang besar.
- Daud mendengar bahwa Absalom telah mengangkat diri sbg raja yang didukung sebagian besar orang Israel. Dia segera mengajak pengikutnya yg masih setia kepadanya segera keluar dari Yerusalem untuk menghindari perang yang dapat menyebabkan banyak korban penduduk Yerusalem
2. Pergumulan Daud
Daud berdoa dalam Mazmur 3:2-3 “Ya TUHAN, betapa banyaknya lawanku! Banyak orang yang bangkit menyerang aku. Banyak orang yang berkata tentang aku: “Baginya tidak ada pertolongan dari pada Allah” Kata “banyak” diulang 3 kali menunjukkan mayoritas orang-orang Israel mendukung pemberontakan Absalom, Kata tersebut juga memperlihatkan beratnya masalah dan pergumulan yang sedang dihadapi oleh raja Daud :
- Dihianati oleh anak kesayangannya sendiri
- Kehilangan dukungan rakyat karena sebagian besar suku-suku Israel mendukung pemberontakan Absalom
- Ditinggalkan oleh sebagian besar pengikutnya, termasuk orang kepercayaannya Ahitofel
- Daud tidak muda lagi (+/- 60 thn) dan hanya memiliki sedikit pasukan dan rakyat yang tetap setia kepadanya dibanding dengan mereka yang mengikuti Absalom
- Konsekwensi dosa perjinahannya dengan Betsyeba dan kejahatannya membunuh suaminya, sesuai firman Tuhan “pedang tidak akan menyingkir dari keturunanmu” (2 Sam 12)
- Pemberontakan yang dilakukan secara nasional dan banyaknya pendukung Absalom yang mengejar untuk membinasakan Daud membuat orang berkata bahwa Daud sudah tidak ada harapan dan akan binasa
Daud merasa sangat terpukul dengan pemberontakan yang dilakukan Absalom dan dukungan dari sebagian besar rakyat Israel. Ia meninggalkan Yerusalem dengan kesedihan yang sangat mendalam, menanggung rasa malu dan kekuatiran karena ancaman Absalom dan pendukungnya yang sangat banyak “Daud mendaki bukit Zaitun sambil menangis, kepalanya berselubung dan ia berjalan dengan tidak berkasut. Juga seluruh rakyat yang bersama-sama dengan dia masing-masing berselubung kepalanya, dan mereka mendaki sambil menangis” (2 Sam 15:30)
3. Penyerahan diri kepada Allah
Namun kehilangan kedudukan, rasa malu, kuatir dan kesedihan yg dialaminya tidak membuat Daud menjadi putus asa dan kehilangan harapan. Sebaliknya, ia merendahkan dirinya dihadapan Allah dan berserah penuh kepada Allah. Saat akan meninggalkan Yerusalem, Daud berkata kepada imam Zadok “Lalu berkatalah raja kepada Zadok: “Bawalah tabut Allah itu kembali ke kota; jika aku mendapat kasih karunia di mata TUHAN, maka Ia akan mengijinkan aku kembali, sehingga aku akan melihatnya lagi, juga tempat kediamannya. Tetapi jika Ia berfirman, begini: Aku tidak berkenan kepadamu, maka aku bersedia, biarlah dilakukan-Nya kepadaku apa yang baik dimata-Nya”( 2 Sam 15:26)
Dalam penyerahannya kepada Allah, Daud kemudian dapat melihat masalah besar yang dihadapi secara berbeda dengan pandangan banyak orang. Daud dapat melihat Allah lebih besar dari masalah yang dihadapinya. Allah sanggup melindunginya dari ancaman musuh- musuhnya.
Pada Mazmur 3:4 Daud berkata :“Tetapi Engkau, TUHAN, adalah perisai yang melindungi aku” Daud melihat bahwa Allah adalah perisai yang kuat yang dapat melidunginya dari ancaman banyak musuh yg mengejarnya seperti saat dia berhadapan dengan raksasa Goliat dan dari kejaran serta ancaman raja Saul.
Daud juga dapat melihat Allah adalah kemulianNya. Allah yang memberikan dia kemuliaan dengan mengangkatnya dari seorang gembala menjadi raja Israel. Daud berkata “Engkaulah kemuliaanku dan yang mengangkat kepalaku” Allah sendiri yang akan meneguhkan kedudukannya, sesuai janji Allah kepadanya “Keluarga dan kerajaanmu akan kokoh untuk selama-lamanya dihadapanku, tahtamu akan kokoh untuk selama-lamamya”(2 Sam 7:16)
4. Percaya kepada Allah
Dalam penyerahannya secara total kepada Allah, Daud menikmati persekutuannya dengan Allah. Daud berseru kepada Allah dan mendengar jawaban Allah atas teriakannya minta tolong. Dalam Mazmur 3:5 Daud berdoa “Dengan nyaring aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku dari gunung-Nya yang kudus” Persekutuan dengan Allah menumbuhkan kekuatan dan kedamaian di hati Daud. Kesedihan, ketakutan dan rasa malu berganti menjadi damai sejahtera.
Dalam Mazmur 3: 6 – 7 Daud berkata “Aku membaringkan diri, lalu tidur; aku bangun, sebab TUHAN menopang aku! Aku tidak takut kepada puluhan ribu orang yang siap mengepung aku” ” Daud mendapat kekuatan yang baru dari Allah yang menopang dia. Bersama Allah, Daud percaya dan tidak takut menghadapi musuhnya meski jumlah mereka jauh lebih besar.
Selanjutnya pada Mazmur 3:7-9, Daud berkata “Bangkitlah, TUHAN, tolonglah aku, ya Allahku! Ya, Engkau telah memukul rahang semua musuhku, dan mematahkan gigi orang-orang fasik.Dari TUHAN datang pertolongan. Berkat-Mu atas umat-Mu!” Daud percaya bersama Allah dia akan mampu mengalahkan musuh – musuhnya
Mazmur 3 mengajarkan bahwa apapun sebesar apapun masalah kita alami, Allah lebih besar dari masalah tersebut. Kita perlu merendahkan diri, berserah penuh kepada Allah dan mempercayai Dia yang mampu menyelesaikan masalah yg kita hadapi.
Mazmur Daud, ketika ia lari dari Absalom, anaknya. Ya TUHAN, betapa banyaknya lawanku! Banyak orang yang bangkit menyerang aku; banyak orang yang berkata tentang aku:”Baginya tidak ada pertolongan dari pada Allah.”Sela Tetapi Engkau, TUHAN, adalah perisai yang melindungi aku, Engkaulah kemuliaanku dan yang mengangkat kepalaku. Dengan nyaring aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku dari gunung-Nya yang kudus. Sela Aku membaringkan diri, lalu tidur; aku bangun, sebab TUHAN menopang aku! 7.Aku tidak takut kepada puluhan ribu orang yang siap mengepung aku. Bangkitlah, TUHAN, tolonglah aku, ya Allahku! Ya, Engkau telah memukul rahang semua musuhku, dan mematahkan gigi orang-orang fasik. Dari TUHAN datang pertolongan. Berkat-Mu atas umat-Mu! Sela.
Mazmur 3
Oleh : Barce M.Simarmata (Subreg 1.4)
