Kematian dan Istirahat

Dalam iman kita, kematian tentunya tidaklah lagi menakutkan. Karena maut telah dikalahkan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.

Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?”  Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. 

1Kor 15:55-57 

Bahkan Tuhan berkata, bahwa kita tidak akan mengalami kematian. Secara rohani, kita akan selalu hidup.

Jawab Yesus: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?” 

Yoh 11:25-26 

Kematian adalah seperti tidur, sebuah istirahat setelah kita berjerih lelah di dunia ini. Perbuatan kita tidak akan sia-sia.

Dan aku mendengar suara dari sorga berkata: Tuliskan: “Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini.” “Sungguh,” kata Roh, “supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka.” 

Why 14:13 

Mereka tiba di rumah kepala rumah ibadat, dan di sana dilihat-Nya orang-orang ribut, menangis dan meratap dengan suara nyaring. Sesudah Ia masuk Ia berkata kepada orang-orang itu: “Mengapa kamu ribut dan menangis? Anak ini tidak mati, tetapi tidur!” 

Mar 5:38-39 

Perjuangan Untuk Hidup

Tetapi mengapa kita selalu berharap sembuh ketika kita sakit kritis? Kita berdoa, bahkan berdoa bersama-sama, supaya kita atau teman/saudara kita yang sakit kritis bisa sembuh.

Ada alasan alamiah, ada alasan alkitabiah. Keduanya valid.

Kita mungkin merasa banyak hal yang belum kita lakukan. Ada yang masih memikirkan anak-anaknya, pasangannya, orang tuanya. Ketika saya sakit terasa serius di umur 40 tahun, yang paling banyak kepikiran adalah bagaimana sekolah dan masa depan anak saya (yang waktu itu seingatku masih SD, dan kite/saya belum mikirin bagaimana dana sekolah/kuliahnya nanti), bagaimana istri saya, mau tinggal dimana (secara kite kontraktor alias pindah-pindah rumah kontrakan). Hal-hal yang mungkin tampak kecil tetapi kepikiran banget. Saya merasa belum siap dipanggil, masih banyak PR saya!!!! 😂

Perasaan tanggung jawab seperti itu adalah baik dan wajib.

Alasan alkitabiah adalah seperti yang Paulus katakan: bagiku hidup adalah Kristus. Lebih berguna bagi kita untuk hidup di dunia ini, berguna bagi orang lain, berguna dalam menyebarkan Kebaikan Tuhan, dst… dst…

Karena itu, penting untuk kita punya semangat hidup, punya tujuan hidup yang jelas. Dan jaga kesehatan serta stamina supaya hidup panjang dan sehat demi orang lain dan Tuhan.

(CEV)  If I live, it will be for Christ, and if I die, I will gain even more.
(ERV)  To me, the only important thing about living is Christ. And even death would be for my benefit.
(ESV)  For to me to live is Christ, and to die is gain.
(GNB)  For what is life? To me, it is Christ. Death, then, will bring more.
(Indonesian BIS)  Karena bagi saya, tujuan hidup saya hanyalah Kristus! Dan mati berarti untung.
(Indonesian TB)  Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.
(KJV)  For to me to live is Christ, and to die is gain.
(MSG)  Alive, I’m Christ’s messenger; dead, I’m his bounty. Life versus even more life! I can’t lose.
(NET)  For to me, living is Christ and dying is gain.
(NIrV)  For me, life finds all of its meaning in Christ. Death also has its benefits.
(NIV)  For to me, to live is Christ and to die is gain.

Philippians 1:21

Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu. Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus–itu memang jauh lebih baik; tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu. Dan dalam keyakinan ini tahulah aku: aku akan tinggal dan akan bersama-sama lagi dengan kamu sekalian supaya kamu makin maju dan bersukacita dalam iman, 

Fil 1:22-25

God’s Sovereignty

Hanya ilustrasi. Ziarah ke makam engkong dan oma Jess, TPU Petamburan, 22 April 2025

Tetapi apapun logika kita, Tuhan berdaulat atas segala sesuatu. Umur dan kematian ada di tangan Dia, dan kadang/seringkali tidak sesuai dengan kesehatan seseorang. Seringkali orang dipanggil pulang atau berpulang di saat yang sangat tidak masuk akal bagi kita yang ditinggal. Di saat seperti itu, kita sangat berdukacita… kadang bertahun-tahun kita tidak bisa menerimanya. Tetapi dalam fakta dan jaminan bahwa kita akan selalu aman, kita akhirnya akan selalu bisa menerima kenyataan itu, seringkali setelah berjuang/bergulat dengan kemanusiaan dan emosi kita.

Dan inipun datangnya dari TUHAN semesta alam; Ia ajaib dalam keputusan dan agung dalam kebijaksanaan. 

Yes 28:29 

Di saat seperti itupun, seperti kata Paulus, kita yang meninggal juga berbahagia:

Fil 1:23  Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus–itu memang jauh lebih baik; 

Semoga kita semakin mendalam dengan Tuhan yang sangat dalam. 🙏

Tinggalkan Balasan